oleh

Ekosisten Cagar Alam Laut Krakatau Berbalut Mitigasi Mulai Terancam

-Pesisir-160 views

Krakatau adalah gugusan pulau-pulau yang bernama Rakata, Sertung, Panjang, dan Anak Krakatau, yang terdapat di Selat Sunda Indonesia. Status gugusan pulau-pulau ini adalah, cagar alam laut (CAL) dengan seluas 13.605 hektar. Awalnya, Krakatau merupakan gunung api purba setinggi 3 ribu meter, bergaris tengah 11 kilometer. Krakatau Purba lenyap saat erupsi di zaman prasejarah. Letusannya memunculkan tiga kepundan aktif: Danan, Perbuatan, dan Rakata yang selanjutnya menjelma sebagai pulau memanjang.

Pada 26-27 Agustus 1883, letusan luar biasa kembali mengguncang yang kali ini menghancurkan puncak Danan dan Perbuatan, juga dua per tiga Rakata. Perkembangan selanjutnya, muncul daratan yang diberi nama Anak Krakatau, tahun 1930.Krakatau adalah gunung Api yang sangat dikenal di dunia terlebih karena letusannya pada tahun 1883 yang memberikan dampak besar pada sebagian belahan dunia karna tsunami yang terjadi sebagai dampak letusannya hingga abu vulkanik yang menyebar hingga di beberapa negara. Atas kedasyatan ltusan dan dampak yang diakibatkannya Krakatau menjad sangat bersejarah bagi masyarakat dunia terutama d bidang geologi dimana Krakatau menjadi satu situs yang dipercaya memberikan gambaran bagaimana terbentuknya ekosistem baru dan keindahan alamnya sebagai objek wisata.

Sejarah krakatau yang banyak menyimpan pengetahuan mendorong di tetapkannya gugusan krakatau sebagai kawasan Cagar Alam Laut di Indonesia dan menjadi pusat perhatian dunia sebagai Gunung vulkanik yang bersejarah. Alih-alih sebagai icon Indonesia saat ini gugusan Krakatau sebagai Cagar Alam Laut telah memberikan banyak manfaat bagi pemerintah dan masyarakat dari sisi pengembagan pariwisata, dimana kunjungan wisata dalam dan luar negri terus berdatangan dan mampu menghidupkan sektor ekonomi kerakyatan di kawasan pulau Sebesi dan pelabuhan Canti

Kratakau  telah pula dikembangkan sebagai objek wisata tahunan dengan digelarnya Festival Krakatau oleh pemerintah daerah Lampung yang mampu menghadirkan wisatawan manca negara dengan berbagai aktivitas yang memberikan edukasi kepada masyarakat terkait dengan keberadaan Gunung Krakatau. Kegiatan yang digelar meliputi pameran, seminar, lomba-lomba hingga wisata kunjungan langsung berupa pemantauan Gunung Krakatau.

Krakatau memiliki daya tarik yang luar biasa sebagai gunung vulkanik yang memiliki sejarah purbakala, selain itu kelimpahan pasir laut yangg terdapat di gugusan cagar alam Laut Krakatau pun menarik banyak peminat pengusaha penambang pasir laut untuk melakukan eksploitasi. Berbagai aturan telah dituangkan untuk melindungi Cagar Alam Laut Krakatau namun tidak sedikit pula para pihak berupaya untuk mengambil keuntungan dari proses penambangan pasir laut sekitar Cagar Alam Laut krakatau.

Mengacu kepada UU RI No 32 tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan UU 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil penambangan pasir Laut sudah tidak lagi diizinkan dilakukan di kawasan Cagar Alam Laut Krakatau dan sekitarnya.Peraturan Daerah [Perda] Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil [RZWP3K] yang telah diterbitkan oleh pemerintah daerah Lampung sudah sangat jelas melarang adanya penambangan di kawasan gugusan pulau-pulau Cagar Alam Laut Krakatau.

Kegiatan penambangan yang berkedokkan mitigasi bencana hingga saat ini masih terus bergulir dilakukan oleh pihak-pihak swasta penambangan dengan memanfaatkan izin dari penguasa daerah. Setidaknya ada beberapa kasus penambangan pasir di sekitar gugusan Krakatau pada tahun 2008, 2015 hingga baru-baru ini tahun 2019.

Kegiatan penambangan pasir laut sesungguhnya secara ekologis akan memberikan dampak berkelanjutan mengingat dasar laut yang saling mempengaruhi, terlebih dengan aktifitas arus dan ombak. Ancaman kerusakan lingkungan secara tidak langsung akan mempengaruhi daerah lindungan Cagar Alam Laut dan kehidupan biota laut sebagai aset daerah perlindungan laut. Kerusakan lingkungan ini akan sangat mempengaruhi potensi perikanan tangkap bagi masyarakat sekitar dan yang tidak kalah pentingnya adalah ancaman bencana longsoran gunung seperti yang terjadi pada Desember 2018 lalu.

Sudah selayaknya pemerintah daerah untuk benar-benar serius dalam mengelola sumberdaya alamnya secara bijaksana yang ditetapkan dengan selektif dalam memberikan izin kegiatan penambangan pasir laut bagi pihak-pihak swasta dengan alasan apapun. Kajian mendalam tentang manfaat dari penambangan pasir laut di sekitar Cagar Alam Laut Krakatau harus mampu memperlihatkan keutamaan bagi penyelamatan lingkungan dan manfaat bagi masyarakat di sekitar kawasan Krakatau.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *